Pemain Keyboard Cabuli Bocah di Masjid
Topik Terkait
MANADO—Kasus cabul dengan korban anak di bawah umur kembali menggemparkan Manado. Kali ini tersangka adalah pemain keyboard berinisial EC alias Evendi (30), warga Lawangirung, Wenang, Manado. Lebih edan lagi, Evendi berupaya menjalankan aksi bejadnya di dalam sebuah Masjid di Lawangirung, Selasa (23/6). Untung aksinya itu, kepergok warga.
Fitri (50), saksi mata di lokasi kejadian menceritakan, saat hendak mencuci tangan, ia melihat ada pria dan perempuan di pinggir masjid. Kemudian ia memanggil seseorang dan mengamati dua oknum mencurigakan tersebut.
“Ternyata waktu kami lihat, eh yang perempuan masih anak kecil. Pelaku peluk dan menggosokan (maaf) ‘burungnya’ ke korban. Saya lihat persis dia buka restlething celana,” tutur Fitri, Jumat kemarin.
Usai memergoki pelaku, Fitri dan beberapa orang, langsung melaporkan ke masyarakat sekitar. Saksi kemudian mengetahui ternyata korban adalah warga setempat. Dalam sekejab informasi tersebar. Wargapun menerima informasi, ternyata ada bocah-bocah lain yang menjadi korban. Tak lama berselang, malam itu juga warga melapor ke Mapolres Manado. Polisi belum langsung respon laporan warga. Ayah korban kemudian memutuskan melapor lagi.
Setelah diusut, selain bocah yang kepergok di masjid, ada pengakuan lima orang korban lain. Bocah kedua yang dilaporkan sebagai korban, mengaku pernah dicabuli pelaku yang juga berprofesi sebagai sopir kanvas itu. “Anak itu (korban kedua, red) minta jangan diberitahu ke ibunya, karena malu,” singgung saksi.
Beberapa warga mengutarakan, aksi pelaku sudah sejak tahun lalu. Itu terjadi di depan rumah korban, dalam masjid, mobil, dan di salah satu bangunan yang saat ini sudah menjadi minimarket di Lawangirung.
Kendati warga sudah mengetahui ada enam korban, keluarga yang melapor ke kepolisian baru tiga korban.
Korban pertama melapor Selasa (23/6) lalu. Dua korban lain baru melaporkan Jumat (26/6) kemarin. Keduanya masih berusia delapan tahun. Modus tersangka, yakni membujuk korban dengan pensil, uang dan boneka.
Aksi bejat tersangka nyaris memicu konflik di masyarakat. Bahkan beberapa warga hampir membakar rumah tersangka tersebut. “Saya pikir cuma anak saya. Aduh ada anak-anak yang lain,” tutur ayah korban pertama.
Hasil visum kepolisian, ada lecet ringan dan memar di bagian kelamin korban pertama.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Sulut Dra Jull Takaliuang mengatakan, langkah pertama yang harus dilakukan yaitu visum. Setelah mengambil hasil visum dilakukan pelaporan. “Dalam waktu dekat ini kami akan menghubungi atau mengunjungi korban,” ujar Takaliuang.
Ia menambahkan, Manado bakal menjadi kota yang tak lagi nyaman bagi anak-anak. Orang tua diharapkan lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak. “Pastikan bahwa aktivitas anak harus bisa dipantau,” imbuh Takaliuang.
Ia mendesak, aparat penegak hukum mesti memberikan hukuman yang berat bagi tersangka cabul. “Harus ada efek jera,” tutur dia.
Kapolreta Manado Kombes Pol Rio Permana Mandagi melalui Kasubag Humas AKP Bartholomeus Dambe mengatakan, tersangka saat sementara menjalani pemeriksaan. “Korban yang melapor baru tiga. Kami sementara sidik kasus ini,” ungkap Bartho.(tr-21/kim)

