717 Orang Tewas, 805 Luka
Topik Terkait
RADARMANADO.COM, MAKKAH-Tragedi Mina terjadi lagi. Hanya kali ini kejadian tidak terjadi di jamarat (tempat lempar jumrah), tetapi 1,5 km dari lokasi jumrah Aqabah. Hingga saat ini, informasi yang diterima secara resmi oleh misi haji Indonesia, jumlah korban tewas 717 orang, dan 805 orang terluka. Sementara ini, baru satu jamaah dari Indonesia yang dipastikan meninggal.
Kejadian tersebut terjadi di Jalan Arab 204, sekitar pukul 7.30 WAS. Jalan tersebut sekitar 500 meter dari jalan besar King Fahd. Dan lokasi kejadian sekitar 1,5 km dari jamarat Aqobah. Jalan Arab ditempati oleh jamaah dari Arab, Mesir, Turki, dan Sudan. Mereka bermaksud melempar jumrah pertama Aqobah pada pagi hari karena biasanya mengejar menyelesaikan melempar jumrah pertama agar cepat tahalul (bebas ihram).
Menurut keterangan Kepala Daker Makkah Arsyad Sanusi, lokasi tersebut tidak biasa digunakan jamaah haji Indonesia untuk menuju ke tempat melempar jumrah Aqobah. Terutama mereka yang tinggal di Maktab Mina Jadid. Jalan yang mereka gunakan adalah jalan besar King Fahd. “Jadi lokasi kejadian bukan berada pada jalur yang biasa di tempuh jamaah haji Indonesia. Tapi kami mendapat informasi ada beberapa jamaah yang melalui jalan tersebut, dan saat ini sedang kami selidiki,” ujarnya.
Arsyad menjelaskan, jamaah haji Indonesia ada 52 maktab, terbagi di dua tempat. Yaitu 7 maktab di Mina Jadid, dan 45 maktab di Harratul Lisan (Mina). Mereka yang tinggal di Mina Jadid tersebutlah yang kemungkinan bisa menjadi korban. Karena jamaah yang berada di Harratul lisan, akan ke jamarat Aqobah melalui terowongan Muashim (terowongan Mina yang dulu pernah menjadi tragedy, Red). Jadi lokasinya bukan di terowongan Mina.”Sangat kecil sekali kemungkinan untuk terjadinya korban yang lebih banyak,” ujarnya.
Menurut, laporan petugas di Jamarat, peristiwa diduga terjadi karena adanya jamaah yang akan melakukan jumrah Aqabah tiba-tiba terhenti di jalan Arab. Karena terhenti, jamaah yang berada pada barisan belakang mendorong jamaah yag di depan sehingga berdesakan dan banyak perempuan dan orang tua yang jatuh menjadi korban.
Untuk memastikan apakah ada korban dari jamaah Indonesia, Tim PPIH sudah turun di tempat kejadian peristiwa (TKP) dan juga di RS Mina Al-Jisr, tempat banyak korban dievakuasi ke rumah sakit tersebut. Berdasar info di lapangan, ada satu korban jamaah haji Indonesia. Sampai saat ini korban tersebut sedang diidentifikasi. “Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak begitu lama akan segera disampaikan identitas dan kloter asal jamaah haji tersebut,” paparnya.
Arsyad menegaskan, pihaknya kini mencegah terjadinya lebih banyak korban. Pihaknya terus berkoordinasi tak hanya dengan petugas PPIH di lapangan, tetapi juga dengan Difa Madani atau semacam Badan Penanggulan bencana Arab Saudi untuk mendapatkan informasi terbaru. “Khususnya di wilayah yang tidak bisa dijangkau petugas PPIH,” jelas Arsyad.
Menurut dia, petugas PPIH Arab Saudi sudah sejak awal mengantisipasi kepadatan jamaah yang akan melempar jamarat dengan mengeluarkan larangan untuk melontar jumrah aqabah pada pukul 8.00 - 11.00 tanggal 10 Dzulhijjah kemarin (24/9). Sebab saat itu adalah waktu di mana jamaah ramai-ramai pergi ke Jamarat untuk melontar jumrah. Untuk tanggal 11 dan 12 Dhulhijjah, jamaah haji Indonesia diimbau untuk tidak melontar jumrah mulai Pukul 13.00 - 16.00. “Karena ini diyakini waktu afdol melempar jumrah sehingga banyak jamaah yang pergi ke jamarat,” katanya.
Sementara itu, salah seorang saksi mata Mugi Suryojaya, ketua rombongan (karom) kelompok terbang (kloter) 48 embarkasi Surabaya (SUB) di Jamarat, Mina, membenarkan ada WNI korban. “Kami berangkat melempar jumrah dari Minajadid. Sesampai di jalan 204 sebelum jembatan, jamaah numpuk dari dua arah. Lokasinya setelah pasar,” ujarnya kemarin.
Mugi menjelaskan, jamaah yang mau masuk bertemu dengan jamaah yang akan keluar di jalan tersebut.
“Kami terhimpit, kebanyakan kepanasan dan akhirnya korban berjatuhan,” tuturnya.
Menurut Mugi, salah satu korban yang meninggal merupakan anggota rombongannya. “Namanya Niro dari Paiton, Probolinggo. Saat di lokasi kejadian, dia lepas dari saya. Beberapa saat kemudian saya lihat digotong sama askar dan ditaruh di bawah jembatan,” katanya.
Mugi sempat melihat wajah Niro yang digotong dan wajahnya ditutup kain ihram. “Saya buka ihram yang nutupi wajahnya. Saya lihat ada sleyer hijau di leher dan mukanya memang Pak Niro. Saya bilang ke askar, ini teman saya. Terus kemudian dibawa pergi,” jelas Hasan, salah satu anggota rombongan.
Hasan menjelaskan, posisi Niro di belakangnya saat kejadian. “Saya lihat banyak mayat yang digotong kemudian dibawa ke arah jembatan,” jelasnya.
Mugi menjelaskan, korban yang meninggal bukan orang Indonesia saja. “Saya menyaksikan sendiri. Kejadiannya di pintu masuk dekat jembatan. Korbannya yang banyak orang kulit hitam,” jelasnya.
Dia mengaku ikut berdesak-desakkan dekat lokasi yang menjadi lokasi kejadian. Hasan menambahkan, ketua KBIH Saiful Bahri yang mereka bawa juga menjadi korban dan dibawa ke rumah sakit.
Bagi keluarga jamaah haji yang ingin kejelasan bisa menghubungi hotline Daker Makkah di +966543603154.(end/vee)






