Jual Rempah-rempah Sejak Jaman Permesta
Topik Terkait
USIA 95 tahun bukan halangan bagi Fatima Rakanijo untuk menyambung hidup. Ia bertahan dengan berjualan rempah-rempah, aktifitas yang ia lakukan sejak jaman Permesta.
WAJAH Fatima Rakanijo tampak renta dan keriput. Di usia mendekati satu abad, wanita yang lazim disapa Bude ini, masih sanggup bertahan hidup. Ia seperti tidak peduli dengan kondisi fisik yang mulai melemah. Bude masih menjajakan dagangannya, berjualan rempah-rempah. Menariknya, bisnis bumbu dapur itu ditekuni sejak hijrah dari Jawa puluhan tahun silam. “Saya jualan rempah-rempah sudak sejak jaman Permesta,” tutur Bude, Sabtu pekan lalu depan Lorong Lumba-lumba, Kelurahan Sindulang 2, Kecamatan Tuminting, Manado.
Bude menceritakan aktifitasnya yang praktis tak pernah berubah dari pagi hingga malam. Bangun pukul 05.00 Wita, nenek 17 cucu ini bergegas ke Pasar Bersihati. Di sana Bude membeli bahan (rempah-rempah) untuk dijual lagi. Dari dagangan kecil itu, praktis profit tak seberapa. “Yah cuma untuk sedikit. Pas untuk makan,” singgung Bude.
Bude sebenarnya punya tiga anak. Suaminya meninggal 10 tahun silam di Jawa. “Saya hanya dengar kabar dari keluarga kalau suami sudah meninggal,” sambung Bude.
Tantangan Bude sekarang bagaimana ia berupaya mengumpulkan uang secukupnya untuk menemui keluarga. Tapi Bude merasa berat. Tidur seadanya beralaskan kardus di warung yang ia pakai untuk berjualan. “Ingin bertemu sanak keluarga di Jawa, tetapi apa daya kondisi saat ini baik fisik dan uang tak cukup tuk pulang,” kata Bude. (***)






