12 Jam Sekarat, Dibopong Asiku ke Angkot
Topik Terkait
RADARMANADO.COM, Insiden kebakaran 54 bangunan di Kelurahan Calaca, Manado menjadi bencana terbesar se-Sulut selama satu dekade terakhir. Harta penduduk senilai puluhan miliar rupiah ludes begitu saja. Belum lagi korban fisik ada yang mati dan ada yang harus dirawat di rumah sakit. Ali, si penata rambut, masih beruntung kendati kedua kakinya nyaris catat, karena melompat dari Lantai 2, bangunan.
WAJAH Ali (34) tampak sembab, Selasa (6/10) malam. Matanya berkaca-kaca, membayangkan betapa syukurnya ketika lolos dari jebakan ‘nekara kecil’ yang mengamuk di bilangan Calaca, Sabtu (4/10) pagi. Terbaring di RS Siti Fatima, Ali seperti tak kuasa mengisahkan, sebuah kejadian di luar sangkaannya. Pagi itu, sekira pukul 09.00 Wita pria asal Jawa ini duduk di Lantai 1 bangunan. Seketika ia mendengar teriakan warga mengenai kebakaran. “Saya panik dan buru-buru naik ke Lantai 2, untuk selamatkan peralatan usaha saya,” tutur Ali.
Tiba di Lantai 2, Ali berbalik hendak turun ke lantai dasar. Sialnya, api seperti menjemput Ali, persis di tangga bangunan. Asap mengepul, panas terasa membakar seketika. Kepulan asap menutup penglihatan Ali. Ia berupaya menerobos api, tapi sulit. Sekejap membuka mata, Ali menemukan ada cahaya matahari yang menusuk ke dalam ruangan. Di situlah Ali melihat ada akses keluar searah sinar matahari. Ali bergerak menuju teras lantai 2. Karena api mulai menjalar ke teras, lelaki ini memutuskan meloncat dari atas. Jatuh di tanah, Ali kemudian merasakan kedua kakinya keram menyusul sakit yang luar biasa. “Saya pusing hampir pingsan dan hanya lihat manusia berlari melanggar saya. Semua cari selamat masing-masing,”ungkap Ali.
Ia pun merangkak pelan-pelan menuju sebuah pos kecil persis di ujung jalan. Di sana, Ali baru merasakan dampak sebuah peristiwa, ketika bantuan itu tak kunjung datang. 12 jam, Ali bergulat dengan sakit, lapar, haus. “Saya sudah tak pikirkan lagi usaha. Tapi fisik saya, dua kaki saja,” sambung Ali.
Pergulatan panjang Ali, kemudian berujung di tangan calon Wakil Wali Kota Jemmy Asiku, yang hari itu bermaksud membawa sarapan dan bantuan lain untuk korban kebakaran. Asiku mendapatkan Ali dalam kondisi kritis. Tergerak kondisi tubuh Ali, Asiku membopong pria itu, lalu dibawa ke angkot, untuk selanjutnya dilarikan ke Rumah Sakit Siti Mariam. “Semula saya tidak tahu sama sekali itu Pak Jemmy Asiku. Dia juga datang dengan penampilan apa adanya. Tidak ada ciri-ciri orang kaya atau orang besar. Dia dan beberapa orang angkat saya, tapi dua kaki saya tidak berdaya lagi. Saya dikasih air mineral. Saya nanti tahu kalau Pak Asiku calon wakil wali kota, setelah di rumah sakit. Ada yang bisik-bisik begitu,” papar Ali.
Di mata Ali, Asiku lebih dari sekedar calon pemimpin yang tetap merendah. ”Sampai saat ini, saya belum bertemu dengan pak Asiku lagi. Saya mohon sampaikan salam dan rasa terima kasih saya untuk beliau. Saya tidak akan lupa pengalaman ini. Saya minta doa untuk kesembuhan saya. Kita saling mendoakan,” tutup Ali.
Mengenai insiden ini, Jemmy Asiku tidak mau terlalu banyak bicara. “Sudahlah. Yang penting korban kebakaran mulai pulih. Kita bekerja dengan tulus saja. Bantu orang juga tidak usah dibilang-bilang. Kita semua punya jatah tantangan dan kesulitan hidup. Hari ini orang lain, mungkin esok atau lusa kita yang alami. Jadi mari kita tetap dekat dengan Tuhan, dalam situasi apapun. Suka maupun duka tetap menyukuri hidup,” pesan calon Wakil Wali Kota yang berpasangan dengan Harley Mangindaan dari nomor urut 1 itu. (***)






