Beringin Sulut Layu, Aklamasi Bukan Roh Demokrasi
Topik Terkait
RADARMANADO.COM Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar (PG) Sulut, Senin (21/2), di Hotel Grand Kawanua, Manado tak segreget, musda yang dulu-dulu. Musda kali ini, tampak normal dan jauh dari kesan kompetisi internal PG. Padahal, momentum Musda PG Sulut ini menjadi kesempatan kader partai berlambang beringin ramai-ramai berkompetisi. Nama Stefanus Vreeke Runtu (SVR) praktis tak diusik tokoh-tokoh Golkar seperti Elly Engelbert Lasut (E2L), Jimmy Rimba Rogi (Imba), Tetty Paruntu, Djelantik Mokodompit, Winsulangi Salindeho, Meiva Salindeho, Viktor Mailangkay dan Rene Manembu. “Kelihatan lesu dan tidak kompetitif. Adem ayem dan mati angin,” ungkap sejumlah kader Golkar, Senin kemarin, di Manado.
Fenomena ini dianggap bukan gambaran PG yang berkomitmen membangun regenerasi. “Bahwa nanti akhir SVR yang menang, itu bukan soal. Tapi paling tidak PG mendorong kader-kadernya untuk berkompetisi. Karena kompetisi dalam sebuah musda itu, menggambarkan eksistensi partai yang membuka ruang demokrasi. Kelemahan aklamasi dalam pemilihan struktur partai itu, kesannya aman. Padahal ini momentum kebangkitan PG, yang ditandai dengan kompetisi untuk menelorkan tokoh dan pemimpin partai yang tangguh,” singgung kader Golkar yang menolak namanya ditulis.
Sementara itu, pengamat politik Sulut Taufik Tumbelaka menuturkan, fenomena aklamasi idealnya jika seorang pemimpin mempunyai prestasi. “Misalnya Jokowi dipilih sebagai presiden atau Oly jadi gubernur Sulut, menang telak, itu ada kesan aklamasi. Tapi sebuah organisasi yang prestasi pemimpinannya menurun, cara aklamasi itu bukan solusi. Karena tidak ada kesan kompetitif di sana,” tutur Tumbelaka.
Ia mengatakan, Golkar selama ini, hampir semua kepala-kepala daerahnya terganti dengan kader PDIP. “Ini tentu butuh kompetisi untuk melahirkan pemimpin baru yang lebih qualified dan tipikal petarung,” ujar Tumbelaka.
Beberapa pengurus dan kader DPD 2 menilai, peluang aklamasi di musda ini, bukan representasi kebangkita Golkar. “Kita sebenarnya berharap, ada kader lain yang maju. Kalah tidak soal, tapi paling tidak pimpinan PG Sulut ke depan, lahir dari sebuah kompetisi yang sengit. Itu bisa memotivasi kerja dan perjuangan Golkar merebut kursi eksekutif maupun legislatif nanti,” singgung beberapa kader PG, di GKIC.
Sementara itu, suasan Musda PG Sulut, Senin kemarin, di GKIC tampak adem ayem. Semua pimpinan DPD 2 PG se-Sulut diarahkan rapat tertutup yang sama sekali tidak bisa diakses. Wartawan sempat mewawancarai pengurus Golkar Marlina Moha Siahaan (MMS). “Kita lihat saja dinamika musda ini. Kami belum bisa berkomentar banyak,” singkat MMS.
SVR rupanya membuka ruang kompetisi untuk semua kader. Sebelumnya mantan Bupati Minahasa itu mempersilahkan siapa saja kader Golkar, dapat bertarung di musda kali ini. “Kalau ada dukungan 5 persen, yah silahkan maju. Semua terbuka untuk kader,” tutur SVR, beberapa waktu lalu.
Mengenai fenomena PG Sulut makin lesu, lantaran kompetisi tak menonjol, SVR belum bisa dimintai penjelasan. Ia tampak sibut mengakomodasi pengurus DPP termasuk Ketua Umum Aburizal Bakrie (Ical) dan tak bisa dihubungi.
Terpantau, pengurus DPP Theo Sambuaga juga ikut dalam musda dimaksud. Kemudian semua Ketua-ketua DPD 2 se-Sulut, ikut dalam musda dimaksud. (*)



