Mega versus Pramono. Golkar-PAN Penentu
Topik Terkait
RADARMANADO.COM MANADO-Tahapan pencoblosan, Rabu (17/2) hari ini, menjadi pertarungan gengsi dua partai besar, di gelanggang Pilkada Manado. Dari database dan peta kekuatan, agaknya Partai Demokrat (PD) dan PDIP benar-benar berhadapan di pilkada kali ini. PDIP dan PD yang semula diramalkan nikah siri (berafiliasi diam-diam), ditengara malah pisah dan menegaskan pendirian, merebut kursi orang nomor satu di Kota Manado.
Sinyalemen ini terungkap, setelah petinggi-petinggi PDIP memutuskan turun gunung (ke Manado,red). Megawati Soekarnoputri, Ahmad Basarah, Puan Maharani plus Yasona Laoly ikut memantau kesiapan PDIP usai serah terima jabatan Gubernur Olly Dondokambey. “Saya minta PDIP merahkan Kota Manado. Rebut kemenangan,” kobar Megawati, Senin lalu, di Manado.
Kemudian menyusul bos-bos Demokrat, Pramono Edy Wibowo, Ruhut Sitomput, Steven Rumangkang dan Roy Suryo.
Fenomena ini kemudian ditengara, gelanggang Pilkada Manado menjadi perang gengsi Mega versus Pramono.
Hitung-hitungan, dua partai ini bakal bersaing ketat, meski PDIP semula dianggap tim underdog.
Merujuk sementara dari data perolehan suara legislatif dan partai politik, pada Pemilu Legislatif (Pileg) Sulut 2014 daerah pemilihan 1 Kota Manado, selisi perolehan suara Demokrat dan PDIP nyaris tiga berbanding satu (3:1)
Total suara Demokrat ditambah partai pengusung PKPI, lalu partai pendukung Golkar, PAN, PPP dan PKS mencapai 135.291 ribu. Sementara, gabungan suara PDIP dan Nasdem 58.843.
Jika semua kekuatan dikerahkan, lalu legisaltor partai pengusung dan pendukung konsisten mengamankan suara, pasangan calon (paslon) GSVL-MOR dari Demokrat-PKPI bakal melibas HJP-Tora dari PDIP-Nasdem. Dikhawatirkan PDIP bakal tumbang untuk kedua kalinya, setelah Pilkada 2009 silam.
Namun kenyataan ini bukan jaminan. Kehadiran tim DPP PDIP dibawa pimpinan Megawati Soekarnoputri bakal mengubah peta politik secara umum. Pernyataan Megawati memenangkan HJP-TORA bukan tidak mungkin, akan membakar spirit semua kader banteng, memecahkan mitos bahwa PDIP selama dua periode di Manado, dapat nol.
PDIP punya modal enam legislator Manado. Belum lagi kepala-kepala daerah dari PDIP dan legislator Sulut, ikut berjibaku memenangkan HJP-TORA.
Lalu bagaimana dengan Demokrat? Secara de jure, Demokrat mempunyai sembilan legislator di DPRD Manado. Minus Jimmy Sangkay yang memutuskan mendukung pasangan lain, ada delapan legislator plus satu personil PKPI diyakini mampu meredam ancaman PDIP. Kemudian secara de facto, Golkar, PAN, PPP dan PKS sudah merapat ke GSVL-MOR. Kekuatan 3:1 ini di atas kertas cukup menguntungkan GSVL-MOR. Hanya saja, politik menurut kebanyakan kalangan, bukan seperangkat barang mati yang sulit diubah. “Kita sulit memprediksi. Karena PDIP punya tradisi kemenangan, justru di masa injury time. Partai ini adalah partai petarung yang sudah teruji. PDIP bisa membalikan fakta kapan saja,” ungkap pengamat pilkada, Sevri Malonda, Senin kemarin, di Manado.
Faktor yang bisa menetralisir PDIP, yakni delapan program GSVL, yang sudah terbukti selama memimpin Manado. “Kesulitan terbesar meredam GSVL, karena semua program ia buktikan selama menjabat wali kota. Pemilih kita dominan membenci janji-janji kepala daerah. Cuma GSVL sudah membuktikan bukan janji lagi. Fenomena ini yang sulit dilupakan rakyat Manado,” jelas aktifis kota Tery Umboh.
Sementara itu, Ketua Tim Pemenangan PDIP Jendri Keintjem optimis, banteng bakal untung di Manado. “Kami yakin, kami pemenang,” tegas Keintjem.
Begitupun Ketua Fraksi Demokrat Deasy Roring. “Demokrat dan semua partai pendukung sudah membuktikan bekerja. GSVL-MOR juga sudah menguji program selama ini,” ungkap Roring.
Di bagian lain, banyak pihak menegaskan, dukungan Golkar dan PAN amat menentukan GSVL-MOR atau HJP-TORA. “Kita barangkali endus Golkar dan PAN merapat ke GSVL-MOR. Tapi itu juga bisa berubah. Suara Golkar dan PAN, di atas 60 ribu suara saat Pilcaleg 2014 lalu,” singgung pengamat politif Zemmy Leihitu. (*)



