Bupati Shalat Gerhana di Posigadan
Topik Terkait
RADARMANADO.COM - Tidak ada ritual khusus yang dilakukan warga masyarakat Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), saat menyaksikan Gerhana Matahari Total (GMT) kemarin (9/3). Kecuali, melaksanakan shalat sunnah dua rakaat secara berjamaah.
Shalat tersebut berlangsung di Masjid Nurul Huda, Desa Mamalia, Kecamatan Posigadan. Bupati Hi Herson Mayulu (H2M) bersama jajaran Pemkab, DPRD serta masyarakat ikut dalam shalat gerhana matahari dua rakaat secara berjamaah. Shalat itu dipimpin Ustad Adam Latief.
Sesudah shalat, dilanjutkan cermah mengenai gerhana matahari dalam kacamata islam oleh Bupati.
Sebelumnya, setelah menerima informasi bahwa Bolsel juga akan dilalui GMT kemarin, Mayulu langsung mengajak masyarakat khususnya umat islam untuk melaksanakan shalat gerhana di hari terjadinya fenomena alam tersebut. Dipilihnya Posigadan, karena dari seluruh wilayah Bolsel bahkan Sulut, wilayah ini paling mendekati GMT alias ditaksir 99 persen bulan menutupi cahaya matahari.
“Kita laksanakan ini karena kita umat islam. Rasulullah menganjurkan jika terjadi gerhana, shalat 2 rakaat,” kata H2M yang juga dikenal sebagai Da’I.
H2M mengatakan, dilaksanakannya shalat salah satunya untuk menghindari segala bentuk sirik. Segala sesuatunya yang terjadi, termasuk fenomena GMT adalah karena kuasa-Nya (Tuhan). “Bukan meminta supaya gerhana jangan terjadi, tapi kembali memperkuat keimanan terhadap Allah SWT,” terangnya.
Pantauan Koran ini kemarin, gejala GMT perubahannya dapat dilihat secara jelas pada pukul 08.30 Wita, sampai pukul 08.55 Wita atau pukul 09.00 Wita. Cahaya matahari berangsur-angsur menurun alias redup). Puncaknya, sekira pukul 08.45 Wita sampai sekira pukul 08.48 Wita, suasana menjadi gelap (seperti waktu magrib). Setelah itu, cahaya matahari perlahan kembali normal.
Di sisi lain, prosesi bulan menutupi matahari ini mulai terjadi sejak pukul 07.15 Wita. Hanya saja, tidak bisa dilihat secara langsung menggunakan mata telanjang, kecuali memakai pelindung atau kacamata khusus.
Fenomena ini termasuk jarang terjadi. Menurut informasi dari berbagai sumber, fenomena alam ini terakhir pada 1983 lalu. Menariknya lagi, tidak semua wilayah di muka bumi bisa menyaksikan GMT kemarin. Tercatat, hanya beberapa kota di Indonesia saja, termasuk Sulut.(ail)








