GAMBATTE dan Disnaker Bersinerji
Topik Terkait
RADARMANADO.COM - Terobosan nyata dilakukan organisasi GAMBATTE (Gabungan Alumni Magang Jepang Berusaha Amat Tekun Taat dan Enerjik) Indonesia. Terbukti, GAMBATTE yang dipimpin Asriel Johan Tatande, sejak 1993 berupaya membantu generasi Indonesia yang akan magang ke Jepang. Itu melalui Momerandum of Understanding (MoU) Jepang dan Indonesia. Puluhan ribu putra-putri Indonesia, dimagangkan ke Jepang. “Selama 23 tahun ini, sudah sekira 50 ribu magang di Jepang. Mereka kembali ke tanah air (Indonesia), ada yang jadi pengusaha, politisi, dan birokrat,” kata Ketum GAMBATTE Indonesia, Asril Johan Tatande, di Tondano, Kabupaten Minahasa, Minggu (6/3).
Dulunya, untuk Sulawesi Utara (Sulut) dilaksanakan di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), lanjut pria yang dikenal komunikatif ini. Dia menegaskan, saat ini, yang sedang magang di Jepang ada 64 orang. “Untuk diketahui, pemagang asal Sulut disenangi oleh perusahaan Jepang. Buktinya, banyak permintaan perusahaan dari Jepang,” ujar Tatande.
Sementara, Pembina GAMBATTE Indonesia Medy Lensun ST menuturkan, program ini positif, karena sangat membantu putra-putri Indonesia dalam hal ketenagakerjaan. “Yang magang, mereka bekerja sambil belajar dan belajar sambil bekerja, sehingga mendapatkan etos kerja orang Jepang, yang kita kenal dengan semangat dan disiplinnya,” kata Lensun, yang juga mantan Wakil Bupati Boltim.
Sebelumnya, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sulut Marsel Sendoh mengatakan, ada puluhan tenaga kerja (Naker) yang sementara mengikuti seleksi. Dimana, bila mereka lulus seleksi akan dikirim ke Balai Latihan Kerja (BLK) di Bekasi untuk mengikuti persiapan magang ke Jepang. “Program ini kerjasama dengan pemerintah Jepang. Naker nantinya akan magang di perusahaan pembuat kue dan sejenisnya, di salah satu kota di Jepang. Lamanya magang tergantung perjanjian kerjasama dengan perusahaan di Jepang itu. Yang pasti, selama magang mereka akan diberikan upah oleh perusahaan,” kata Marsel Sendoh.
Usai magang, menurut Marse, para peserta bisa menerapkan ilmu dan ketrampilan yang diperoleh di kampung halaman masing-masing. “Bisa jadi wiraswasta, bahkan sampai membuat home industry yang dapat mempekerjakan orang lain,” tutur Sendoh, seraya menuturkan bahwa seleksi serupa direncanakan akan digelar pertengahan tahun ini, dengan jumlah peserta sebanyak-banyaknya, dan bidang usaha sebanyak-banyaknya pula. (but/*)





