Gerhana Matahari Anugerah Tuhan

Share:

RADARMANADO.COM - Gubernur Sulut Olly Dondokambey (OD) bersama ibu Rita Dondokambey Tumuntuan tak ketinggalan menyaksikan gerhana matahari di Pantai Firdaus Kema Kecamatan Kema Minahasa Utara, kemarin. Di dampingi Wakil Gubernur (Wagub Steven Kandouw) dan Ibu Kartika Devi Kandow Tanos serta Forkopimda, pejabat eselon II Pemprov Sulut dan masyarakat mereka menyaksikan fenomena alam yang terjadi 350 tahun sekali di tempat yang sama ini.
Mereka menyaksikan detik-detik terjadinya gerhana melalui teropong yang disiapkan BMKG dengan kontak awal pukul 07.34 Wita dan puncak pukul 08.49 Wita dengan intensitas gerhana 97 persen. Seluruh masyarakat tampak antusias dengan kehadiran orang nomor satu di Sulut ini.
Selesai melakukan pemantauan OD mengatakan, dengan terjadinya peristiwa alam ini umat manusia harus bersyukur kepada yang maha kuasa dengan segala ciptaannya. “Ini karena anugrah Tuhan kita bisa menyaksikan Fenomena Alam Gerhana Matahari. Kejadian seperti ini bisa terjadi lagi berabad-abad. Jadi saya kira kita harus bersyukur kepada Tuhan,” ajak orang nomor satu di Bumi Nyiur Melambai ini.
Pantauan koran ini, OD dan SK berbaur dengan ribuan masyarakat menyaksikan gerhana matahari di Pantai Firdaus, Kecamatan Kema, Kabupaten Minahasa Utara, kemarin. Pantai Firdaus menjadi salah satu lokasi dari 19 titik di Sulawesi Utara menyaksikan gerhana matahari yang terjadi 350 tahun sekali ini.
Gerhana Matahari yang disaksikan di Pantai Firdaus mulai pukul 07.34 hingga pukul 10.15 WITA. Dari pantai indah ini, warga menyaksikan gerhana matahari hingga magnitudo 97,3 persen dengan durasi 2 jam 41 menit. Puncaknya terjadi pada pukul 08.49 WITA.
Rombongan gubernur dan masyarakat umum menyaksikan gerhana matahari menggunakan kacamata khusus yang disiapkan BMKG.
Fenomena Gerhana Matahari Sebagian yang melintasi wilayah Kabupaten Minahasa memang tak disia-siakan masyarakat. Mereka meluangkan waktu sejenak dari aktivitasnya. Beberapa warga pun menyaksikan detik demi detik terjadinya gerhana.
Keinginan warga untuk melihat fenomena alam ini ramai diberitakan di media sosial. Seperti dikutip dari salah satu media online, disebutkan, Desa Wolaang Kecamatan Langowan Timur warga menggunakan foto ronsen untuk bisa melihat dengan aman.
Jein Rewah mengakui, peristiwa alam ini yang nyaris membuat suasana menjadi gelap tersebut memang menyebabkan perubahan yang tak lazim. Menjelang bulan menutupi separuh matahari, suhu udara yang awalnya panas terik berangsur menjadi dingin. “Saat matahari mulai tertutup setengah, situasi menjadi seperti jam 6 sore. Namun saat matahari mulai terbuka separuh, keadaan kembali seperti semula, cuaca mulai terasa panas. Begitu seterusnya sampai kondisi matahari terbuka secara sempurna,” tuturnya.
Sementara, selama proses terjadinya gerhana, aktivitas masyarakat tetap berjalan seperti biasanya. Petani ke sawah atau kebun, tukang ojek sibuk mencari penumpang dan ibu-ibu rumah tangga tetap menyibukkan diri di dapur untuk memasak.
Pada bagian lain, informasi yang dihimpun bahwa situasi serupa juga terjadi di beberapa wilayah lainnya seperti Kecamatan Tompaso Raya, Kawangkoan Raya, Tondano Raya dan tempat lainnya.
Kendati hanya menggunakan alat seadanya, warga Kota Bitung tetap antusias menyaksikan gerhana matahari. Dengan menggunakan peralatan yang dirakit sendiri seperti kaca yang dihitamkan menggunakan asap lilin, rol film atau negatif film, penutup botol yang dilubangi jarum dan kertas yang dibuat teropong hingga kacamata las.
Dari pantauan, warga terlihat berkelompok-kelompok menyaksikan fenomena alam ini serta antrian menggunakan alat yang dirakit sendiri. Bahkan sejumlah warga berusahan untuk mengabadikan peristiwa itu menggunakan ponsel.
Euforia menyambut gerhana matahari total terus terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Selain di Kalimantan, Palu dan Ternate, gerhama matahari juga dapat dilihat dari Sulawesi Utara (Sulut)
Salah satu daerah di Sulut untuk melihat fenomena alam yang hanya terjadi 350 tahun sekali itu, dapat disaksikan di Pantai Firdaus Kema Minahasa Utara.
Menariknya, sejumlah warga mulai kreatif memciptakan alat seadanya untuk dapat melihat gerhana matahari selain alat canggih seperti teropong dan kacamata khusus.
Ada pula yang menggunakan kacamata khusus untuk las, vermin yang paling gelap bahkan menggunakan air yang ditaruh di wadah guna melihat pantulan fenomena alam tersebut.
Di Minut misalnya, hal kreatif lainnya dilakukan oleh seorang Pendeta GPdI Irene Girian Weru II bernama Selvi Mamuaya bersama rekannya Ine Lomboan Guru SMP I Talawaan menciptakan alat sederhana untuk menyaksikan fenomena langka ini.
Alat tersebut dibuat dari film kamera yang belum dipakai, diambil sekitar 20 cm dan dipasang persis ditengah kardus yang telah dibocorkan terlebih dahulu. “Awalnya ini hanya coba-coba, kemarin saat dicoba ternyata film kamera ini dapat digunakan melihat matahari, jadi kami gunakan untuk hari ini melihat gerhana,” kata Selvi kepada wartawan.
Melalui fillm tersebut, keduanya dapat mengabadikan momen-momen indah terjadinya gerhana matahari. Dengan selisih 7 menit, kedua ibu ini mengabadikan dengan kamera hp yang diambil melalui alat seadahnya itu.(*)

Gerhana Matahari Anugerah Tuhan | Redaksi | 4.5

Berita Lainnya