Larang Alfamart-Indomaret, Sumendap Diacungi Jempol

Larang Alfamart-Indomaret, Sumendap Diacungi Jempol

0
BAGIKAN
James Sumendap SH

RADARMANADO.COM - Kalau di kota/kabupaten lain Alfamart dan Indomaret menjamur, tidak dengan di Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra). Bupati Mitra James Sumendap (JS) dengan tegas menolak kehadiran minimarket ini karena bisa menggilas para pemilik warung, yang notabene adalah pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang menopang perekonomian daerah ini. “Bupati James Sumendap patut diacungi jempol. Penolakan ini patut diapresiasi. Memang harus ada langkah berani untuk menolak Alfamart dan Indomaret,” kata Anggota Dewan Kabupaten (Dekab) Mitra Denny Sumolang, kemarin.
Seperti diberitakan sebelumnya, Bupati JS meminta Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Lembong menolak operasional bisnis ritel yang dilaksanakan secara kartel ini karena telah menghancurkan jenis usaha kecil di daerah akibat tidak mampu bersaing.
JS sangat tidak setuju dengan pemberian izin kepada Alfamart, Indomaret dan 7-Eleven karena sangat berdampak bagi pengusaha lokal dan pedagang kecil di daerah. Meski demikian, pihaknya juga telah memberikan pemahaman kepada pedagang dan pengusaha lokal di daerah untuk meningkatkan daya saing produk-produknya. “Salah satunya, dengan tidak menaikkan harga barang terlalu tinggi sehingga pada akhirnya menurunkan daya beli masyarakat daerah,” kata JS.
Komitmen JS melindungi pedagang kecil dan pengusaha lokal diwujudkannya dengan menerbitkan Surat Keputusan (SK) Bupati Mitra yang menolak operasional bisnis ritel di Mitra. Hal itu merupakan langkah terobosan penting yang telah dilakukannya untuk tetap melindungi pasar tradisional, pedagang kecil dan pengusaha lokal. “Saya putuskan untuk menolak bisnis ritel di Mitra karena akan mematikan bisnis usaha masyarakat di desa yang tidak bisa bersaing dengan bisnis besar ini. Jadi bahasa saya, menolak bisnis ritel yang dilaksanakan secara kartel di Mitra,” tegas Sumendap.
Lebih jauh, JS menegaskan, pihaknya telah membangun fasilitas pasar tradisional empat lantai yang memiliki lift dan eskalator seperti layaknya mall.
Pasar tradisional itu, kata orang nomor satu di Mitra ini, merupakan pasar tradisional dengan konsep modern pertama di Sulut dan bermodal anggaran sebesar Rp45 miliar, pasar tradisional ini telah selesai dibangun.
Pihaknya juga menjalin kerja sama dengan perbankan dan koperasi dalam penyediaan kredit bagi pedagang kecil dan pengusaha lokal sehingga peningkatan daya saing produk lokal dapat bersaing menjadi pilihan masyarakat setempat. “Ini bukti keseriusan kami meningkatkan daya saing pedagang kecil dan pengusaha lokal di Mitra. Dengan memiliki pasar yang aman, bersih, dan sehat, kami berharap masyarakat tetap bisa bersaing dengan bisnis kartel, utamanya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat lokal,” tandasnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR