32 KK Warga Tompaso yang Tergusur di Pulomas, Tolak Tinggal di Rusunawa...

32 KK Warga Tompaso yang Tergusur di Pulomas, Tolak Tinggal di Rusunawa Berlumut

0
BAGIKAN
MEMPRIHATINKAN: Beginilah kondisi Rusunawa yang akan ditempati 32 KK

RADARMnDO.COM - Perjuangan Sidang KGPM Daniel Pulomas Jakarta dan warga Tompaso yang bakal digusur belum berhenti. Bahkan mereka telah dua kali bertemu Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. alias Ahok.
WARGA Tompaso yang telah lama bermukim di Arena Pacuan Kuda Pulomas Jakarta tak pantang menyerah. Mereka menerima keputusan Pemprov DKI Jakarta melakukan penggusuran, tapi mereka menolak jika ditempatkan di rumah susun sewa (Rusunawa) yang tidak layak huni.
Itu yang menjadi kegelisahan 32 kepala keluarga yang juga anggota sidang KGPM Daniel Pulomas. Mereka terus berupaya mencari dukungan. Bahkan, Lusiani Tatia terus meng-up load di jaringan sosial media (sosmed)perkembangan mereka.
Dalam suatu percakapan di sosmed facebook, Lusiani Tatia mengaku kalu mereka telah dua kali bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Ahok. ”Sekarang yang jadi permasalahannya itu bawahan dari pemerintah yang membuat atau merekayasa hasil laporan palsu. Tapi lepas dari semuanya itu, dukung aja dalam doa supaya kebobrokan atau udang yang tersembunyi itu terungkap. Karena kalo sudah uang yang berbicara, susah untuk dilawan,” tulis Lusiani Tatia.
Lusiani Tatia juga menambahkan, yang mereka perjuangkan saat ini soal tempat tinggal pasca digusur nanti. ”Ini yang kita perjuangkan, masakan sebagian warga yang direlokasi mendapatkan tempat seperti ini. Bagaimana dengan pendapat teman-teman semua,” ujar Lusiani Tati sambil meng-up load foto Rusunawa yang berlumut dan terkesan tak terawat.
”Kita warga Manado punya harga diri. Kita punya hak yang diperjuangkan sebagai warga atlet berkuda. Mohon untuk yang bekerja di Pemda Sulut, laporkan tentang warga Manado yang ada di Pacuan Kuda Pulomas. Sama-sama berjuang, setia dan ikatan kekeluargaan itu, semangat kami sampe saat ini,” tambahnya.
Di bagi akhir, Lusiani Tatia menegaskan mereka tidak menentang atau melawan hukum secara fisik. ”Soal gereja (gedung gereja yang akan digusur, red) biar sesuai kehendak Tuhan. Hanya sekarang yang diminta warga hanya tempat yang layak. Kemarin warga survei rusun yang diberikan itu tidak layak huni. Tembok yang berjamur bahkan runtuh. Oleh sebab itu, kami masih bertahan khususnya 32 KK ini yang kemarin diundi dapat rusun yang tidak layak huni. Meminta pertanggungjawaban untuk haknya. Kami pindah dengan siap hati dan sadar bahwa semua untuk kepentingan dan kemajuan bangsa dimata dunia,” tegasnya.
Warga Tompaso yang berprofesi senagai joki dan penjaga kuda pacu ini hijrah ke Jakarta pada tahun 1970. Ketika itu Gelanggang Pacuan Kuda Pulomas dibuka dan dioperasikan oleh Jakarta Race Management (JRM) sebuah perusahaan PMA (Australia) dan membutuhkan banyak jockey (joki).(*)

TINGGALKAN KOMENTAR