RadarManado.com – Langit Bengkol sore itu tampak cerah, seolah ikut menyambut dentuman gong yang menandai dimulainya Festival Seni Budaya Bantik 2026. Lapangan Bantik dipenuhi wajah-wajah penuh harapan, dari anak-anak hingga orang tua, semua larut dalam suasana khidmat sekaligus meriah. Jumat, 24 Juli 2026, menjadi hari yang tak sekadar mencatat sebuah perayaan, melainkan juga sebuah peringatan: 77 tahun gugurnya Pahlawan Nasional Robert Wolter Mongisidi.

Sekretaris Provinsi Sulawesi Utara, Tahlis Gallang, berdiri di tengah panggung dengan suara lantang namun penuh kehangatan. Ia mengingatkan bahwa festival ini bukan hanya pesta budaya, melainkan sebuah amanah untuk menjaga warisan leluhur dan menyalakan kembali semangat juang Mongisidi. “Budaya adalah identitas, dan semangat pahlawan adalah api yang tak boleh padam,” ucapnya, disambut tepuk tangan meriah.
Di sisi lain, Albert Mokodongan, sang ketua panitia, tampak sibuk memastikan setiap detail berjalan lancar. Baginya, festival ini adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Rangkaian kegiatan yang telah disusun bukan hanya hiburan, melainkan juga ruang belajar, ruang mengenang, dan ruang melayani.
Jejak Budaya dan Semangat
Festival ini dimulai dengan Upacara Adat Manahumama di Bengkol, sebuah ritual yang menegaskan ikatan masyarakat Bantik dengan tanah leluhur. Lalu, pada awal Agustus, Lapangan Bantik di Malalayang akan menjadi saksi tabur bunga dan pelayanan kesehatan gratis—sebuah simbol penghormatan sekaligus kepedulian.
Agustus semakin berwarna dengan Lomba Tarian Mahamba antar 11 desa Bantik dan lomba baca puisi karya Mongisidi di Manado Town Square 3. Di sana, generasi muda akan menyalurkan kreativitas sekaligus menyuarakan semangat perjuangan lewat kata-kata dan gerak tubuh.
Puncaknya, 5 September 2026, Pohon Kasih di Kawasan Megamas Manado akan menjadi lautan manusia. Sebuah perayaan besar yang menyatukan seni, sejarah, dan kebangsaan dalam satu panggung.
Lebih dari Sekadar Festival
Festival Seni Budaya Bantik 2026 bukan hanya tentang tarian, musik, atau ritual adat. Ia adalah pernyataan bahwa budaya adalah akar yang meneguhkan, dan mengenang pahlawan adalah kewajiban yang menyatukan. Setiap foto yang diabadikan dari pembukaan festival menjadi saksi bisu: semangat persatuan masih bergemuruh di Tanah Bantik, dan akan terus bergema untuk generasi mendatang. (*/Rizath)












